Ritual Bapinta’ Ujan Digelar di Mempawah, Ikhtiar Masyarakat Dayak Hadapi Kabut Asap
Mempawah, MC - Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Mempawah
menggelar ritual adat Bapinta’ Ujan Ketimanggongan se-Kabupaten Mempawah di
Panyugu Nek Aban, Jalan Raya Danang, Desa Kecurit, Kecamatan Toho, Senin
(7/9/2026).
Ritual adat tersebut
mengusung tema “Lestarikan Adat dan Budaya Dayak di Kabupaten Mempawah,
Hutan dan Alam Tetap Terjaga.” Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya
melestarikan tradisi dan budaya masyarakat Dayak Kanayatn sekaligus ikhtiar
bersama memohon turunnya hujan di tengah kondisi kabut asap yang menyelimuti
wilayah Mempawah.
Ritual tersebut
dihadiri Wakil Bupati Mempawah Juli Suryadi, Ketua DAD Kabupaten Mempawah,
perwakilan Mabes TNI, Wakapolres Mempawah, para Timanggong, unsur Forkopimcam,
camat, kepala desa, serta masyarakat.
Wakil Bupati Mempawah
Juli Suryadi mengatakan, ritual Bapinta’ Ujan merupakan salah satu bentuk
ikhtiar masyarakat bersama untuk memohon turunnya hujan.
“Hari ini kami
bersama-sama dengan masyarakat dari kabupaten, kecamatan, dan desa melakukan
kegiatan ritual Bapinta’ Ujan di Keramat Nek Aban. Ini salah satu ikhtiar kita
untuk meminta hujan,” kata Juli.
Ia berharap hujan
segera turun, namun tidak dalam intensitas berlebihan. Menurutnya, hujan yang
diharapkan adalah hujan yang membawa manfaat bagi masyarakat dan membantu
meredakan kondisi kabut asap.
“Semoga nanti hujannya
turun. Tapi saya berharap hujannya turun jangan berlebihan. Hujannya turun
untuk menyehatkan kita dan memadamkan sumber-sumber api yang ada, serta
memberikan manfaat bagi masyarakat,” harapnya.
Selain sebagai ikhtiar
menghadapi kondisi lingkungan, Juli menilai ritual tersebut memiliki nilai
penting dalam menjaga keberlangsungan adat dan budaya Dayak di Kabupaten
Mempawah, khususnya budaya Dayak Kanayatn.
Menurutnya, tradisi
seperti Bapinta’ Ujan perlu terus dijaga dan dilestarikan agar tetap hidup
serta dikenal oleh generasi berikutnya.
“Dengan ritual ini,
kita juga melakukan ritual-ritual budaya yang ada di Kabupaten Mempawah,
khususnya budaya Dayak Kanayatn. Mudah-mudahan apa yang kita pinta, yaitu
hujan, bisa dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa,” ujarnya.
Sekolah Masih
Diliburkan
Di tengah kondisi
kabut asap yang semakin tebal, Pemerintah Kabupaten Mempawah juga masih
memperpanjang kebijakan pembelajaran dari rumah bagi sekolah-sekolah di wilayah
terdampak.
Juli mengatakan, keputusan
tersebut diambil dengan mempertimbangkan kondisi kualitas udara dan potensi
gangguan kesehatan, khususnya terhadap anak-anak.
“Untuk hari ini masih
diperpanjang libur untuk sekolah-sekolah, dengan mempertimbangkan situasi dan
kondisi kabut asap yang semakin tebal,” katanya.
Ia menegaskan,
kebijakan tersebut akan terus dievaluasi. Jika kondisi kabut asap mulai membaik
dan menipis, pemerintah akan menyesuaikan kembali kebijakan pembelajaran di
sekolah.
“Kalau seandainya
kabut asapnya sudah mulai menipis, nanti akan menyesuaikan. Jelas bahwa kita
masih meliburkan anak-anak kita agar jangan sampai ada penyakit ISPA,”
pungkasnya.
