Empat Hari MMP Didatangi 4.652 Pengunjung

  • BY DAVID
  • ON 29 DESEMBER 2017
http://mempawahkab.go.id/public/uploads/images/posts/mPosts_1024586148_MMP_2017_Berita.jpgMEMPAWAH, HUMAS – Mempawah Mangrove Park (MMP) kian menjadi primadona wisata alam yang ramai dikunjungi masyarakat. Hanya dalam kurun empat hari libur sekolah dan Natal, jumlah pengunjung di objek wisata yang berada di Desa Pasir, Kecamatan Mempawah Hilir, itu mencapai 4.652 orang. MMP memang menarik. Tak hanya menyuguhkan hutan mangrove yang asri dan panorama laut, MMP juga mengedukasi pengunjung tentang pentingnya pelestarian hutan mangrove atau bakau. Menurut Raja Fajar Azansyah selaku pengelola MMP, jumlah pengunjung terdata melalui tiket masuk/hari. Ia mengungkapkan puncak kunjungan pada tanggal 25 Desember atau pada hari Natal mencapai 1.800 orang. “Jika dibandingkan momentum liburan sekolah dan Natal tahun lalu, jumlah ini meningkat hingga 17,7 persen,” jelas Ketua Mempawah Mangrove Conservation (MMC) ini. Fajar yang juga menjabat Kepala Seksi Pariwisata Dinas Pendidikan, Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Mempawah menerangkan, sejak dibuka setahun silam yakni pada 23 Agustus 2016, MMP selalu melakukan pembenahan dan pengembangan. Upaya pengembangan, ia mengungkapkan, tidak terlepas dari peran Pemerintah Kabupaten Mempawah dan sejumlah pihak. Termasuk Bank Indonesia, perusahaan swasta, dan organisasi peduli lingkungan lainnya. “Salah satu sarana yang kami bangun, misalnya, menambah spot-spot selfie tanpa meninggalkan konsep edukasi yang menjadi daya tarik ekowisata MMP. Kami pun tidak bekerja sendirian, melainkan dibantu kawan-kawan dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis),” tuturnya menerangkan. Para pengunjung, kata Fajar tak hanya datang dari wilayah Kota Mempawah dan sekitarnya. Tapi juga dari luar daerah, termasuk wisatawan asing. Fajar menambahkan, MMP juga menjadi tempat observasi bagi siswa maupun mahasiswa dari berbagai daerah di Kalimantan Barat dan luar Kalimantan Barat. “Kami selalu membuka diri untuk semua kalangan pengunjung MMP,” ucapnya. Fajar berharap ke depan keberadaan MMP dapat memberikan kontribusi positif untuk masyarakat setempat dan daerah Kabupaten Mempawah. Terutama dalam hal meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang nantinya akan berdampak bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. “Insya Allah tahun depan kami akan tingkatkan bentuk kontribusi kepada Pemerintah Kabupaten Mempawah melalui porporasi tiket masuk. Kami pun akan melakukan pembenahan dan evaluasi untuk perbaikan MMP di masa mendatang,” ia menegaskan. Pada tahun 2017, Fajar menuturkan, Kabupaten Mempawah telah memiliki tiga kawasan ekowisata hutan mangrove. Yakni MMP di Desa Pasir, hutan mangrove di Desa Sungai Bakau Besar Laut, dan huta mangrove di Desa Mendalok. Ketiga kawasan tersebut merupakan pengembangan sektor wisata berbasis masyarakat. Fajar berharap ke depan akan ada lagi titik-titik lokasi hutan mangrove baru yang dapat dikembangkan menjadi lokasi konservasi ekowisata. “Kami melalui dinas teknis akan melirik potensi-potensi yang ada di sejumlah desa seperti Galang, Moton Panjang, bahkan Kecamatan Sadaniang,” kata pria kelahiran Pangkal Pinang, Kepulauan Riau, ini.(Rio)

Tags Terkait

Pemkab Mempawah